No Title

Pagi ini ntah kenapa Momon kepikiran memori beberapa tahun yang lalu. Memori yang tidak indah untuk dikenang. Tapi Momon rasa, Mon harus melawan segala ketidaknyamanan ini dengan menuliskannya. Di tahun 2017, Momon mengikuti program dari sebuah lembaga pendidikan. Seperti lembaga pendidikan pada umumnya, lembaga ini pun memiliki kegiatan orientasi untuk para pesertanya. Rangkaian orientasi yang membuat Momon kehilangan senyum selama dua pekan. Haha. Kata orang-orang sih seru, tapi maaf Momon nggak merasa begitu.

Puncak dari segala rangkaian orientasi ini adalah Solo Bivouac (Nginep di hutan, dan bikin tenda sendiri, survive sendiri). Mengingat betapa sangat beresikonya kegiatan ini, kami dilatih selama dua pekan untuk bisa survive. Dilatih pake cara militer (nah ini yang bikin Momon kehilangan senyum). Dari mulai latihan fisik, ilmu-ilmu bertahan di alam, fiqih sholat ketika keadaan darurat, pokonya banyak deh. Udah tahu berat, ngapain terus Momon ikutin, yak?

Setiap hari, kami selalu diingatkan tentang kematian. Seolah perjalanan kami ke hutan untuk Solo Bivouac itu adalah perjalanan terakhir. Seolah beneran gak akan pulang lagi ke rumah buat ketemu orangtua. Dan Momon beneran merasakan itu di hati. Sampe sebelum pergi ke hutan itu, Momon nelpon orang rumah pake nangis segala. Udah ada di titik terendah, terpasrah.

Kejadian yang bikin Momon kaya mau dicabut nyawa adalah ketika latihan penyebrangan basah. Rencananya, di hutan nanti kami akan menyebrang sungai sambil bawa carrier. Untuk itu, kami dilatih biar bisa nyebrang sungai. Latihannya di sebuah curug yang arusnya sangat deras. Momon sempet nyaris hanyut, tapi untungnya ditolong sama seorang teman. Tapi pada akhirnya kami harus melewati curug itu dengan berpegangan pada seikat tali. Saat mengantri, Momon melihat teman-teman satu persatu menghilang dibalik air terjun. Ngeliatnya aja bikin merinding. Tapi mau pulang juga ngga berani. Udah terlanjur basah. Tiba giliran Momon. “Pegang talinya kuat kuat! Ngga ada yang bisa nolong kamu selain Allaah. Pasrah! Dzikir yang banyak!”
“Bismillah”
Momon pegang tali itu kuat-kuat dan berenang sebisa Momon, berharap bisa sampai di tepi. Arusnya berlawanan sama arah yang Momon tuju. Begitu sampai di pusat air terjunnya, tangan Momon nyaris kehilangan tali. Momon ngga bisa liat apa-apa, Panik. Udah baca “Laailaaha illaallaah” berkali-kali karena Momon rasa itu adalah akhir dari hidup Momon, dan Momon ngerasa lega setelah Momon merasa tali yang Momon pegan tadi kaya ditarik. Ternyata di ujung sana sudah ada panitia yang menanti. “Teeeeeh Semangaaaat”. Alhamdulillah ternyata Momon bisa lewatin arus tadi. Rasanya kaya dikasih kesempatan kedua.

Ini bukan simulasi menghadapi kematian, tapi …
pesan untuk terus mengingat kematian itu sangat sampai di hati Momon, terutama ketika Momon bertemu arus air yang deras itu.
Kita ngga pernah tahu bagaimana akhir hidup kita, dalam kondisi apa, sedang melakukan apa, bersama siapa, bisa atau tidak mengucapkan laa ilaaha illallaah…

ah kenapa jadi terkenang memori tiga tahun yang lalu itu ya.

Diterbitkan oleh sahabatlemon

Bukan siapa-siapa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: